Home » » Renata, putri titipan Allah

Renata, putri titipan Allah



Renata, putri titipan Allah - Bismillahir-Rahmaanir-Rahim

Mama jangan menangis lagi, Renata kan milik Allah. Kata-kata ini seketika meluncur begitu saja dari bibir Renata seakan ingin menghapus kesedihan sang Mama.

Renata, ini obatnya diminum, ada berapa? tukas sang Papa. Ada tiga, jawab Renata pendek.

Bismillah Ya Allah, aku adalah milik-Mu dan aku akan kembali kepada-Mu. Sembuhkan aku dengan obat ini, berilah orang tuaku kesabaran dan rizki, lanjutnya seraya meminum obatnya.

Tak dinyana, kalimat-kalimat itu adalah ucapan terakhir Renata karena tak berapa lama kemudian ia pun tak sadarkan diri dan melewati hari-hari terakhirnya tanpa kesadaran di ruang ICU RS. Fatmawati.

Meningitis -radang selaput otak- telah menghampirinya hingga Allah menetapkan maut menjemputnya empat puluh hari kemudian. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raajiun. Ucapan terakhir itu seakan menjadi gambaran perjalanan hidup Renata, si gadis kecil itu. Belum hilang dari ingatan sang Mama saat putri kecilnya itu selalu mendampingi dan mengalirkan kalimat-kalimat nasihat.

Mama, kalau beli ayam hati-hati, harus tanya dulu motongnya pakai Bismillah tidak?

Mama, kenapa enggak pakai jilbab? Khan wajib.

Anjing itu bisa najis kalau terkena jilatannya. Harus dicuci pakai tanah dan air. Orang sebelah harus diingatkan kalau anjingnya main-main ke rumah.

*****

Kini, gadis kecil itu telah pergi, tak ada lagi kalimat-kalimat indah itu. Tak ada lagi celotehan riangnya saat berangkat mengaji. Bahkan tak ada lagi yang membangunkan orang rumah untuk shalat Shubuh.Ia terbiasa bangun lebih awal saat adzan berkumandang, tutur sang Papa.

Renata ingin lihat Mama pakai jilbab, tutur Renata suatu hari sebelum ia tak sadarkan diri. Seolah-olah selama ini ia ada untuk mengingatkan dan menasihati kami, kenang sang Mama.

*****

Wahai Mama, bersabarlah. Yakinlah putrimu ini, dengan izin Allah, akan berbuah pahala bagimu untuk meraih surga yang dijanjikan. Tidakkah engkau ingat bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda:Benar-benar ada lima hal yang sangat berat takarannya di akhirat kelak, yaitu ucapan Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar dan anak shalih yang meninggal sedang orang tuanya bersabar dan berharap pahala kepada Allah dari musibah itu. [1]

Wahai Papa, janganlah larut dalam kesedihan. Yakinlah, ini bukan perpisahan abadi bahkan ini adalah awal dari kebersamaan abadi, dengan izin Allah. Bukankah Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menyampaikan:Bahwa pada hari kiamat anak-anak kecil akan berdiri lalu dikatakan kepada mereka, Masuklah ke surga! Merekapun menjawab,(Kami akan masuk) jika bapak dan ibu kami masuk juga ke surga. Maka diserukan kepada anak-anak kecil itu, Masuklah kalian dan bapak (orang tua) kalian ke surga!

*****

Ya Allah, Ar-Rahman Ar-Rahim, Engkau telah memberi amanah kepada kami seorang putri, yang kami didik agar menjadi putri sholehah yang bertaqwa kepada-Mu dan kini Engkau telah memanggilnya.Ya Allah, dengan amal kami ini jadikanlah putri kami syafaat bagi kami. Jadikanlah putri kami ini salah satu dari anak-anak kecil yang menanti orang tuanya di pintu surga untuk masuk bersama-sama. Aamiin.

Renata Aulia Anjani meninggal di usia 7 tahun pada 26 April 2011 akibat meningitis radang selaput otak. Renata adalah siswi kelas 1 Madrasah Ibitidaiyah As-Saadatuddarain I Pamulang Tangerang Selatan.

Kisah di atas merupakan penuturan kedua orang tuanya kepada Tim Sahabatku Sehat Al-Sofwa, yang telah melakukan pendampingan sejak Renata dirawat di RS.Fatmawati. Semoga Allah merahmatinya dan semoga kisah ini menjadi hikmah bagi kita. Aamiin.

Wallahu alam

Wabillahi Taufik Wal Hidayah,

Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat

Sumber: facebook.com dan jagatmotivasi.com

Silahkan baca juga kisah nyata mengharuhkan Touching Story From Italy

Thank you for reading article Renata, putri titipan Allah




0 comments:

Post a Comment

Sponsor

Popular Posts

Blog Archive

Powered by Blogger.

About Me

My Photo

saya sangat senang berbag tentang apa saja